Ramadhan Bukan Bulan Bermalas-Malasan


Pertanyaan:
Kebanyakan orang di bulan puasa yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana memperbanyak makan dan tidur. Sehingga Ramadhan menjadi bulan bermalas-malasan. Sebagaimana pula sebagian mereka bermain-main di malam hari dan tidur di siang hari. Apa nasihat anda untuk mereka?

 

Jawaban:
Saya melihatnya sebagai bentuk menyia-nyiakan, membuang-buang waktu dan harta apabila keinginannya hanya memperbanyak jenis makanan, tidur sepanjang siang untuk begadang pada sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Tidak diragukan dia telah menyia-nyiakan kesempatan berharga, yang mungkin tak terulang dalam hidupnya. Seseorang yang tangguh adalah dia yang menjalani Ramadhan sebagaimana mestinya, dengan tidur di awal malam, melaksanakan shalat tarawih, shalat di akhir malam sebisanya dan tidak berlebihan dalam makan dan minum.

Hendaknya mereka yang memiliki kelebihan harta, untuk peduli memberi makan orang yang berpuasa, baik di masjid maupun tempat lainnya. Karena siapa yang memberi makan orang berpuasa, mendapatkan pahala yang serupa dengan orang yang berpuasa itu. Jika seseorang memberi makan saudaranya yang berpuasa, dia mendapat pahala saudara-saudaranya. Hendaknya mereka yang diberikan kekayaan oleh Allah, memanfaatkan kesempatan ini agar mendapat pahala yang besar.

 

(Dinukil dari 48 Su’alan Fii ash-Shiyam, Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Mu’assasah as-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin al-Khairiyyah, Madaar al-Wathn Li an-Nasyr.)

Punya pertanyaan atau komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip Tulisan

Ikuti di Channel Telegram: Darul ‘Ilmi

@darulilminoviyardi